Friday, March 02, 2012

perfectsaturdaymorning

This is what perfect mean
A cool darken bedroom
On a saturday morning
With distant sound of everything
No worry
No hurry
Just me

Wish I could bottle it up
And keep it for the rest of the day

Monday, February 27, 2012

Saya Rindu Saya

Saya rindu saya yang termenung menatap laju tetes air hujan yang menempel di jendela.

Saya rindu saya yang bersembunyi di lemari dan membaca buku detektif itu untuk kesekian kali.

Saya rindu saya yang menikmati perjalanan kereta selama tiga jam sendiri.

Saya rindu saya yang tanpa jam tangan berjalan menyusuri kota tanpa rasa peduli.

Saya rindu saya yang tidak diasosiasikan dengan seorang teman, sebuah pekerjaan, suatu harapan.


Saya rindu saya yang gemar mengangkat bahu tanda tak peduli saat mendengar ocehan-ocehan bodoh itu mampir di telinga ini.

Saya rindu pada diri saya yang dengan ringan mengangkat ransel dan pergi ke luar kota untuk bersembunyi.

Ah, saya benar benar rindu pada diri saya sendiri. Kapan saya bisa kembali menjadi saya lagi?

random

Kisah-kisah mengenai Anda saya bundel bersama lalu saya biarkan orang lain membacanya, Bung.

Apakah terlalu berlebihan tindakan itu?
Apakah akan mengganggu,suatu saat nanti Anda tahu?

Ah, saya masih ragu ragu

I STOP

I stop writing

Not because you hate it
Not because you don't approve
Not because you don't want me to

I stop writing
Simply because
You simply stop reading

Friday, February 03, 2012

Pagi Dini Hari #2

"Mengapa begitu mudah, Bung?" tanya perempuan itu di suatu pagi. 

"Apakah kamu menginginkan semuanya jadi sulit?" balasnya dengan sedikit tersenyum menggoda. 

Perempuan itu turut tersenyum, walau masih menyimpan beban pertanyaan dalam hatinya. 

"Bukan tak bersyukur atas semua. Tapi.. ah, entahlah... rasanya aneh mendapatkan sesuatu tanpa harus berjuang dulu."

Dia terdiam sesaat. Senyum nakal tadi lenyap dari wajahnya. Matanya menatap fajar yang merekah di balik jendela di depannya. 

"Mungkin bahagia sudah lelah melarikan diri dari kita," ujar dia dengan perlahan. 

Tiba-tiba sejuta kenangan menggempur kepala mereka berdua. 
Setelah menelaah beberapa saat, perempuan itu mengangguk. 

Pernyataan dia terpahami oleh perempuan itu yang kemudian dijadikan sebagai sebuah logika. 

Tak ada pertanyaan lanjutan. 
Mungkin memang begitu adanya.

Sunday, January 29, 2012

Pagi Dini Hari #1

Pagi dini hari, 
dia menemukan lelaki itu berbaring di sebelahnya sambil menatap langit-langit kamar mereka. 
masih dengan baju kerja yang telah pria itu pakai seharian --lengkap dengan kaos kaki hitam tebal kesukaannya, lelaki itu berbaring lurus-lurus di atas selimut berbantalkan tangan kanan yang terlipat di belakang kepalanya. 

Pagi dini hari, 
tanpa ingin memecah kesunyian yang nyaman dan ketenangan yang menghanyutkan 
dia hanya memandangi profil wajah lelaki yang sedang larut dalam lamunannya itu. 
garis-garis wajah lelaki yang sudah terpatri di ingatannya itu tak pernah membuatnya bosan. 
mungkin dulu mereka berdua dibuat bersamaan oleh empunya dunia dan disandingkan di lemari pengering berduaan, sehingga sampai saat ini, dia selalu merasa sudah layak dan sepantasnya tempatnya di sebelah kanan lelaki itu. 

Pagi dini hari, 
"Aku berbuat salah," ujar lelaki itu tiba-tiba tanpa menoleh ke arahnya. 
Terhenyak, kaget ternyata lelaki itu mengetahui bahwa dia sedang menatap wajahnya lekat-lekat. 
"Itu alasannya mengapa aku tak bisa tidur," ujarnya lagi dengan perlahan. 
dia mengeluarkan tangannya dari hangatnya selimut, dan membentangkan tangan di atas dada lelaki itu. 
"Aku berbuat salah," ujar lelaki itu sekali lagi, "tidakkah kamu ingin tahu apa kesalahanku?" 

Pagi dini hari, 
dia tersenyum. menutup mata sambil kepalanya mencari posisi nyaman di ceruk leher lelaki itu. 
"Smart people don't make mistake, they just miscalculate," ujarnya dengan suara rendah. 

Pagi dini hari, 
lelaki itu memejamkan mata. 
Ada beban berat yang baru saja terangkat dari dadanya. 
Ah, masalah hidup ternyata mudah sekali diselesaikan di tempat tidur hangat pada sebuah pagi dini hari.

-d-

 

Friday, January 27, 2012

6.30 : pengalaman menonton di antara para cendekia

Saat saya merasa bahwa saya telah cukup lama hidup di dunia sehingga tak ada lagi yang bisa membuat saya tercengang. Dunia (lagi-lagi) membuat saya menelan kembali kesombongan saya (pheww). 

"Selalu ada pengalaman pertama!" menjadi tema dalam pengalaman nonton saya kali ini. Pengalaman menonton bersisian dengan para cendekia film :) terasa begitu menyegarkan. Terlebih bilamana yang ditonton adalah sebuah film yang (kemungkinan besar) tidak akan pernah masuk dalam pilihan film yang saya rela tonton sendirian. 

:) 
menarik prolog-nya? 
well, mungkin lebih menarik lagi bila Anda ada di sebelah saya waktu hal tersebut terjadi. 

:) 
baiknya cerita ini diawali dengan si film yang membuat saya menjulingkan mata untuk mencari keseruan sendiri saat menonton. 

6.30 (2006) Rinaldi Puspoyo

Saat masuk dalam ruang pemutaran di sebuah sekolah di bilangan Senayan :) saya dibekali booklet kecil dengan rupa menawan berjudul "33 Film Indonesia Terpenting 2000-2009 pilihan Rumahfilm.org."  Dalam booklet tersebut, film yang akan kami tonton berada di urutan nomor 25 dalam daftar berisi 33 film. 

Not bad posisinya, pikir saya yang pernah (jaman masih hidup di neraka) disuguhi trailer film ini. Saat itu saya merasa bahwa gambar yang ditawarkan (dalam trailer) terlihat cantik dan rangkuman cerita film yang dituturkan pada saya terdengar amat menarik. 

Selain itu, "komentar" dalam booklet menambah rasa semangat saya menonton: 

"Suatu kali saya ikutan setuju, bahwa ini film konyol yang dibuat oleh anak-anak Indonesia kelebihan duit tapi tak cukup banyak untuk sekedar menyewa beberapa lokasi di SF. Atau pemain lokal. Suatu kali, setelah 5 tahun hidup di perantauan, tiba-tiba saya sadar, film ini jauh dari konyol" (AKU) dalam '33 Film Indonesia Terpenting.'  

Gubrak!!! saat membaca, saya merasa dapat dorongan itu menonton film tersebut dengan serius. Dan ternyata... 

Ya, ampyun... janganlah seekor katak ingin menjadi lembu :) xixixi 
saya hanyalah saya, bukan cendekia film yang mampu melihat sinar terang di ujung terowongan gelap. Mencari (dan mendapatkan) penerawangan jauh dari yang ada di depan mata memang bukan "my cup of tea." 

Bagi saya, 6.30 adalah sebuah film isinya gerabak gerubuk, umplek-umplekan, jejumpalitan seenak udel... Semua ingin diceritakan tanpa dikemas dengan apik dan rapi.  Jadi panik sendiri menontonnya. Seakan semua cerita itu ditumplekkan di depan mata saya tapi dengan tempo yang amat lambat. Gerah dan ingin semua cepat selesai adalah rasa yang tak nyaman saat Anda menonton film, dan film ini berhasil membuat saya resah di tempat duduk saya. :( 

Masalah terbesar bagi saya terletak pada dialog dalam film ... Arghh... entah mengapa saya -amat sangat- tidak merasa nyaman dengan dialog yang ada (terlebih yang diucapkan oleh aktor perempuan dengan nada tinggi dan menggantung di ujung kalimat duh! kuping ini rasanya guateeelll 'le pol!) :( huhuhu.... 

Tapi karena saya percaya bahwa semua hal itu tak ada yang sepenuhnya buruk, maka saya mencoba menguraikan isi film itu dan menunjuk apa yang menurut saya enak bagi saya. 

Cerita utama mengenai kematian ibu saat anak di perantauan itu menurut saya amat keren! 

*jadi teringat pengalaman bapak saya yang baru tiba satu bulan di Amerika langsung ditinggal meninggal oleh kakek saya, sehingga tak bisa pulang untuk menguburkannya*

Ide kematian ini di  6.30 keren pisan --terlebih adegan Alit melempar bunga ke laut dan bilang "Salam buat Bapak, ya, Bu!" huhuhu mau nangis jaya! acungan jempol buat skrip bagian ini (saja) buat Adilla Dimitri (yg pada adegan ini jg keren actingnya) dan Rinaldy Puspoyo. 

Tapi filmnya... :(

Masalahnya (mungkin) terletak pada pembagian antara cerita utama dan cerita-cerita kecil yang menjadi "pendukung" yang tak adil. Film ini (menurut saya) terlalu larut dalam cerita cinta (yang bagi saya membingungkan dan carut marut) padahal (menurut saya lagi) NDAK PENTING!!!! :) ndak ada urgensi dalam cerita cinta di film itu. Ah, entahlah... saya tak mengerti cinta sepertinya.  
 
well, maybe that's just me :) 

walau tak bisa menyatakan ini adalah salah satu film terkeren yang pernah saya tonton, namun saya juga tak bisa bilang bahwa ide ceritanya jelek.. Hanya saja (seperti biasa) bagi penonton ceria seperti saya, film ini tak membuat saya bahagia, lega, dan puas :) padahal rasa itu yang saya cari saat menyaksikan gambar bergerak di layar lebar dan ruang gelap. 

"6.30 menggambarkan bahwa Indonesia tidak hanya sekedar identitas di atas kertas, tapi Indonesia juga adalah jangkar eksistensi" (AKU) dalam 33FilmIndonesiaTerpenting.  Itu adalah komentar penutup (AKU) untuk 6.30. 

Saya terpana. Canggih! 
Saya suka analisanya. Sayang, saya tak begitu suka filmnya. 
Memang amat seru mendengarkan pembahasan film dari manusia-manusia cendekia ini. Selalu ada sesuatu yang baru. menarik. menjadi terobosan baru. yang membuat sel-sel kelabu saya diberi workout yang seru. 

:) 

Ah, senang sekali!!! 
terlebih dilanjutkan dengan acara pembahasan daftar 33 Film Indonesia Terpenting 2000-2009 :) wihiyyyy keseruan pun berlanjut. ide-ide dan pemikiran bertebaran di ruang dipenuhi orang :) ah sudah lama tak merasakan ini. Ah, jadi ingin sekolah lagi :) 

-d-

Wednesday, January 25, 2012

A BIT OF ME

there’s a bit of me 

in your smile 

a bit of me in your laughter 

a bit of me in your story 

now i wonder, whether it’s only a bit of me

or all of me is a part of you?


*

Tuesday, January 03, 2012

TIAP 3 MENIT JATUH CINTA

sepertinya tiap tiga menit saya jatuh cinta 
tak perlu tahu rupa 
atau bahkan tahu nama 
hanya dengan sebuah kegiatan sederhana 
bernama permainan kata 
sudah hampir dipastikan saya jatuh cinta 
ah, jadi harus berpikir ulang: 
apakah saya jatuh cinta pada dirimu 
atau kumpulan katamu yang tersusun magis melalui jemarimu 

#ah kode :) xixixi

Sunday, December 11, 2011

untuk kedua kalinya

Dia pikir dia sudah cukup tahu mengenai masalah ini.
masalah jatuh cinta.
masalah sakit hati.
masalah tahu diri.
masalah berbagi.
masalah rasa yang terlalu menjadi.
masalah takdir.
dan masalah-masalah yang tak bisa dipahami dengan logika sederhana.

Ternyata dia salah.
ternyata dunia merasa semua pelajaran itu belum dia pahami sepenuhnya.
sehingga perlu kaji kembali.
sehingga perlu dipaparkan ulang .

Kini dia harus duduk kembali,
mengambil ulang kelas bernama patah hati.
dia terpaksa-dipaksa-atau tak sengaja(?)
kembali berada di ruang yang sama.
dihadapkan pada cerita yang serupa.
dengan alur tak jauh berbeda.
hanya saja tokohnya berbeda-walau tak esensial perubahannya.

Kelas hari pertama.
mereka membahas kasus yang dulu pernah dia bahas.
mereka bercerita mengenai hal-hal yang dulu pernah dia dengar.
setengah bosan, dia mendengarkan.
semua masih sama.
apa yang harus dikata,
semua cerita dan pembahasan seperti sebuah rekaman yang berulang.

Dia menggaruk kepala.
mengapa?
apalagi yang harus dipelajari.
toh, akhirnya dia tahu bagaimana akhir cerita.
dia akan menjadi yang disakiti.
dia akan menangis berhari-hari.
dia akan menghela napas dalam kesendirian.

Dia memandangi semua yang hadir.
semua terlihat hanyut dalam emosi yang ditawarkan oleh cerita.
tegang.
sedih.
depresi.
semua kecuali dia.
dia hanya termangu mengikuti alur yang sudah tertanam di kepalanya sejak lama.

Tanpa emosi, dia coba mengkaji ulang.
Tapi dia tetap dia.
semua tindakannya, semua pikirannya tetap mengikuti logika sederhana miliknya.

Ah, apalah artinya.

Kelas berakhir, tanpa dia memahami apa yang baru saja diajarkan.
dengan gontai dia pulang.
berharap kelas ini cepat selesai
sehingga dia bisa berpura-pura memahami: 
mengapa dia kembali sakit hati.


 
 

Friday, December 09, 2011

Sometime enough is enough

How many heart ache can one endure? One? Two? Three? Or more?

Is the heart strong enough to handle all that?
Or people are just 2 ignorant 2 know when enough is enough?

Wednesday, November 30, 2011

Pagi, Hujan, Sendirian

waktu yang tepat untuk menulis. 
meliar dengan huruf-huruf yang bergabung menjadi kata yang kemudian menjadi kalimat lalu bersatu menjadi paragraf dan sampai pada waktunya menjadi cerita.. 
tentang kamu 
yang sedang jauh 
yang sedang bimbang 
yang sedang rindu 
yang sedang ingin sendiri 
yang sedang tak ingin bertemu 

*cepatkembaliteman* 

i'm still happy with my tea

7 am 
Our last breakfast together.
not very different from our other breakfasts together. 

we've perfected the ritual 
a glass of water 
followed by 
your peanut butter sandwich 
and my plate of rice with scrambled egg 

then 
a story about your work 
a joke about a friend 
my insight of a movie i just watched 
and not so interesting problem i always stumble upon 

after that 
you still drink your dark coffee 
and i still happy with my tea.

why did we make this ritual when right from the start we know this can't be forever?
ah, sometimes we pretend that we have control in our life
ah, sometimes we try to forget that time moves on 
and we are just little dust swept aside by it's movement 

hope, life treats you kind, dear 
hope, life will be a bit nice to me too

this is not goodbye (i know)  
but a chance to say thank you and nice knowing you 

-d-
while listening to Matchbox Twenty "If You're Gone"  
"I think I've already lost you/I think you're already gone/ I think I'm finally scared now"
 


Tuesday, November 01, 2011

sore-sore nonton short di TIM

Hari ini ndak bisa ketemuan. 

Pesan singkat di telepon genggam saya itu menandakan satu hal: Saya bebas siang ini... yeay! jadi meluncurlah saya ke TIM. Ah, sudah lama sekali tidak ke TIM dan nonton film... 

Dalam perjalanan, saya membuka akun twitter dan melihat bahwa ada beberapa film pendek yang akan diputar siang itu. Ternyata film-film dari orang-orang yang saya kenali. kebetulan. 

berikut pengalaman menonton saya pada Minggu, 30 Oktober 2011 di Kineforum-- Film Pemula: Presentasi Binus International – Film Department.

#PG (Henna Mulani|Indonesia) Fiksi|3’31|2011

Telat! :) film pertama selalu bertemu dengan masalah ini... walau tak banyak telatnya, namun tetap saja, saya tak melihat pembukaannya.... yang saya sempat tonton adalah bagian wajah-wajah aktor memberi komentar sengit pada peran utama. 

Wah, film tentang stres nih, demikian pikir saya. 

Lalu tiba-tiba saya melihat pistol di balik punggung peran utama. Sebuah revolver berat dalam genggaman seorang gadis remaja. ironis. :) saat melihat adegan itu saya bertanya: bagaimana gadis itu menyelundupkan sang revolver ke meja makan? mmmm 

Namun pertanyaan tak berlangsung lama, karena kemudian saya dikejutkan dengan sebuah tembakan. DOR. di meja makan, sebuah peluru menembus kepala gadis itu. tubuh miring ke kiri dengan senjata di tembakkan dari sebelah kanan (?) mmmm.... perlu nonton ulang untuk melihat apakah yang saya lihat itu benar atau salah. 

#Pagi, Sayang (Angkasa Ramadhan|Indonesia) Fiksi|5’26|2011

Adegan pertama yang menekankan pada sosok cincin kawin, membuat saya tersenyum. Ah, sebuah film pendek mengenai pernikahan. menarik. namun kemudian muncullah elemen-elemen yang mengganggu seperti: indomie goreng dengan selada (yang menurut saya sedikit absurd), gaya perempuan yang berlebihan, percakapan yang penuh kosa kata di pagi yang seharusnya/ biasanya sepi.

ide cerita yang menarik, namun tenggelam dalam percakapan nan riuh antara dua orang yang seharusnya sudah kenal dekat selama setahun. mmmm.... menurut pengalaman saya, semakin Anda kenal dengan seseorang, semakin sedikit kata yang dibutuhkan :) jadi teringat sebuah film Pasangan Baru garapan salman aristo yang saya sukai. Mmmm.... 24/7 selama setahun membuat dua orang harusnya punya kode-kode ajaib yang tak terlihat dalam interaksi dua aktor itu.. ah, mungkin memang harus mengalaminya sebelum bisa menyajikannya dalam sebuah film agar penonton bisa percaya (teringat film hujan tak jadi datang-yosef anggi)  

Break (Candra Aditya|Indonesia) Fiksi|5’00|Indonesia

Apa yang terjadi bila Anda sedang berupaya melepaskan diri dari hobi yang sudah Anda jalani bertahun-tahun. :) well, memang agak sulit menerjemahankannya dalam gambar. 

Keinginan tiba-tiba untuk meraih sebatang rokok saat tak ada orang yang melihat, atau tak sadar menghirup asap rokok yang dihembuskan orang dekat Anda, atau menggigit bibir saat menonton film dengan adegan orang yang merokok dengan nyaman (hey, tell me about it, coz i've gone through it all)... 

film yang ingin menunjukkan bahwa mencoba berhenti itu sulit, dan semua yang menyuruh Anda berhenti itu munafik, tak berhasil membuat saya terpana. :) Ah, mengapa begitu sulit?

beberapa adegan yang bikin mengernyit adalah saat si tokoh menerima telepon dan mendengarkan pesan dari kekasihnya --si munafik yang memintanya untuk berhenti merokok-- dan yang lainnya adalah dandanan sang kekasih di akhir film membuat saya ingin bertanya, " eh, gimana maksudnya?" 

hehehe... ah, entahlah mungkin kasus ini terlalu dekat di hati sehingga menjadikannya terlalu personal :) 

F*ck, She was Great (Giorgio Pratadaja|Indonesia) Fiksi|04’54|2011

Is in english! hehehehe... selalu senang melihat skrip dalam bahasa yang satu ini, dan melihat bagaimana aktor2 memainkan perannya :) dan saya terpana.... 2 aktor utamanya cihuy!!! :) cerita yang cukup menarik dan alur yang sederhana --walau sedikit terasa terulur-ulur dengan paksa-- namun tetap berhasil menutup sajian film pemula ini dengan manis. 


----
ah, selesai sudah film-filmnya :) 
waktunya melanjutkan perayaan hari kebebasan di tempat lain. 

untuk menutup cerita sore-sore nonton short ini, saya hanya ingin menanyakan: mengapa pemuda 20-an bercerita mengenai depresi, komitmen dengan pacar, perkawinan, dan perselingkuhan. I thought youth had all the fun... why sad stories, dear little ones? 

:) 

well, off to kemang, then... 

Saturday, October 29, 2011

in case of love (2010) -sebuah pengalaman menonton-

entah mengapa saya selalu tertarik pada film-film Asia dengan judul-judul yang bikin penasaran seperti ini :) jadi saat sedang channel-hopping dan membaca judul unik ini, tanpa banyak pertimbangan, langsung saja saya tonton... 

Harus diakui bahwa menonton film panjang pertama milik sutradara Gavin Lin ini membuat saya beberapa kali menguap dan meninggalkan layar tivi untuk mengambil cemilan... :) cerita bertele-tele mengenai percintaan remaja yang terlalu biasa *hahahaha entah bagaimana yang luar biasa atau harusnya saya menuliskannya sebagai percintaan yang terlalu biasa ditemui sehari-hari*ah, entahlah* :) 

Well, anyway... karena sepertinya tak ada film lain yang baik di tv, dan pemeran wanita film tersebut *Haden Kuo* luar biasa cantiknya... saya tetap duduk dan mengikuti cerita yang --menurut sebuah review yang saya baca --terasa amat datar. 

Meskipun demikian menurut review yang sama, pengambilan gambar dan warna film tersebut amat memesona. Untuk hal tersebut, saya tak bisa berkata banyak, well, karena saya tak tahu banyak soal hal ini. 

Yang bisa saya bahas mengenai sebuah film hanyalah mengenai cerita. Alur cerita yang lambat dan bertele-tele memang --seperti disebutkan sebelumnya-- membuat saya bosan. 

Namun saat-saat terakhir, film tersebut menguraikan cerita sesungguhnya, saya sedikit terhenyak. Sebuah cerita yang amat menarik terurai dengan perlahan, di tengah kejemuan saya mengikuti percintaan remaja yang tak tergambarkan dengan baik. 

Ada sebuah cerita di dalam cerita, sebuah flashback yang membuat terhenyak. Ah, seru sekali kepala saya menguraikan cerita itu sendiri, karena bantuan visual dan/atau dialog dalam film tersebut tak membuat saya yakin. Entah apakah karena ada masalah dalam bahasa, banyak pertanyaan yang tersisa di kepala saya mengenai jalan ceritanya. 

Tapi karena saya membiarkan sel-sel kelabu bergerak liar, maka di kepala saya tergambar sebuah cerita yang demikian memesona. Cerita mengenai cinta. Sebuah cinta yang tidak ada. hahay!

Sebuah ending --di kepala saya-- yang tak terduga. Amat disayangkan, si empunya film memutuskan menutup filmnya dengan adegan tipikal film remaja dengan sebuah band yang memainkan lagu sesuai dengan tema film. Ah, tak seru.... padahal menurut saya dramatis sekali keadaannya saat Anda menemukan bahwa lelaki yang mirip sekali dengan your first crush itu ternyata adalah adiknya, dan dia sendiri sudah meninggal sejak lama.

*drumroll* 

hahahahha kalau saya boleh mengubah endingnya... saya tak akan menjadikan ini sebuah film drama remaja yang berlalu saja karena terlalu ringan, tapi sebuah film yang mempertanyakan mengenai: dapatkah dua orang yang patah hati karena ditinggal oleh satu orang yang sama, saling jatuh cinta? :) 

ah.. pasti seru tuh, nguliknya... :) 

ah, film asia memang selalu bisa bikin sebuah cerita yang menarik :) 

:) 

i'm back, how bout you?

Sunday, September 11, 2011

Selamat bekerja, sayang!

“Selamat bekerja, sayang,” ujar perempuan itu sambil menyingkirkan cangkir kopi hitam yang isinya sudah tandas. Lelaki itu mengangguk. Tersenyum. Lalu mengucap salam.

“Malam ini aku pulang agak malam, bahkan mungkin sampai pagi menjelang,” ujarnya sambil menyandang ransel hitam berisi keperluan liputan.

Perempuan itu mengusahakan sebuah senyum tanpa berani menatap lelaki yang sedang berjongkok di ambang pintu sambil membenahi tali sepatunya.

“Hati-hati di jalan dan jangan lupa makan sebelum begadang,” ujar perempuan itu. Lagi-lagi lelaki itu mengangguk. Lalu dia melambaikan tangan.

Di ambang pintu itu, sang perempuan masih terpaku. menatap punggung laki-laki itu sampai tak kelihatan. Sambil memejamkan mata, perempuan itu berbisik, “Pulanglah dengan selamat, sayang. Dan jangan bawa pulang serpihan hati milik mereka yang kamu temui saat liputan.” 

Ngantuk

Kadang malam mampu membuat orang menjadi tak mengantuk

sama seperti film yang bagus

segelas kopi yang kuat

buku tebal yang menarik

dan  kamu…

No Cinderella

I don’t actually believe in fairy tale

Think that it is something that someone made up

Just to brighten up our childhood days

 

I don’t really believe in Cinderella

And there’s no way one can survive the cruel stepmother and two petrifying step sisters

There’s also no prince charming galloping away from the land far far away

 

I don’t buy the believe in love at first sight

It’s a silly little imagination that grows in people’s head

Just to justify their luck in finding the one at a glance

 

I’ve made up my mind

To believe not to believe

But then came you

 

One silly you

Stealing a glance at me in a crowded room

With fairy dust that makes me believe I can fly

 

How do you do it?Rearranging my head the way that you did

Galloping toward me with all the charm

And talks of happiness and land of ever after

 

I’ve made up my mind

To believe not to believe

But then came you

 

One silly you

With dreams of tomorrow

And picking wishes and hopes of coming true

Now, I know not what to believe anymore

TENGGELAM

Saya ingin tenggelam dalam sebuah pelukan nan sunyi

karena kata-kata kini sudah tak ada artinya lagi.

Saya ingin tenggelam dalam sebuah pelukan yang hangat

karena di dunia nyata kini sudah terlalu dingin adanya.

Saya ingin tenggelam dalam sebuah pelukan tanpa pertanyaan

karena jawaban kini sudah tak memberikan kepastian

 

Saya ingin tenggelam dalam sebuah pelukan milik Anda

Yang sunyi, hangat, tanpa banyak pertanyaan

Namun sayang, pelukan tersebut

Sudah terisi

Oleh

Dia

Yang

Ternyata

Bukan

Saya…