Monday, April 19, 2010

Patah Hati : sebuah cerita tentang saya ... (entah kenapa saya mau ceritakan)

Biasanya kalau saya suka pada seseorang, maka dengan mudah lembaran-lembaran kosong di jurnal saya terisi tulisan-tulisan fiksi romantis yang entah bagaimana caranya keluar begitu saja dari pena yang saya pegang atau tuts yang saya tekan. Keadaan ini biasanya juga terjadi pada saat saya sedang mengalamin patah hati.

Suka pada dan patah hati karena seseorang memang dua emosi yang mudah sekali mempengaruhi proses kreatif seseorang *atau hanya saya saja yah? *

Saat sedang suka dengan seseorang jurnal-jurnal saya dipenuhi cerita-cerita ceme-ceme mengila bahkan sampai lirik-lirik lagu lengkap dengan kordnya * eh di mana yah 3 lagu itu yah? Yes, folk! You heard it rite, ada 3 lagu!!*

Tapi memang tidak ada yang mengalahkan rasa patah hati

*GUBRAK… berani ngak yah saya cerita soal ini? Deg-deg-an mode on*

saat patah hati adalah saat di mana proses kreatif (saya) berada pada titik puncaknya.

Satu skripsi hadir karena rasa itu, satu buku diterbitkan akibat pergulatan dengan rasa itu, satu thesis pun jadi saksi atas perjuangan saya dengan rasa itu… hohohoh… sangat dramatis bukan? Tapi bukan itu saja pencapaian-pencapaian akibat patah hati, tulisan-tulisan yang ada di jurnal * yang nantinya akan dibakar saat saya mati oleh sahabat saya yang sedang ada di sudut dunia itu* menunjukkan tulisan-tulisan saya mengalami kemajuan sangat pesat *hohoho memuji diri sendiri mode on* saat patah hati.

(tiba-tiba rindu akan masa itu…errr… ngak ding)

Well, sebenarnya apa yang saya sampaikan di atas biasa saja, sih.

Karena saya yakin nyaris setiap orang pernah mengalami patah hati yang jauh lebih parah dari saya dan berhasil menanggulanginya dengan cara-cara yang lebih spektakuler, hanya saja karena saya adalah seorang penulis, saya bisa menyampaikannya dengan sedikit lebih heboh dibanding orang kebanyakan… J

Yah, balik lagi soal suka dan patah hati…

Untung *kalau ini bisa dikatakan sebagai keuntungan, yah?* saya adalah orang yang mudah suka dan kagum dengan orang. Jadi lembaran jurnal saya tak henti-hentinya terisi cerita ceme-ceme *hah! Anda pun bisa melihatnya di entri blog saya ini, bukan? * tapi itulah, karena suka saja, saya belum bisa DANGGGGG….*mengikuti gaya Rendy saat bercerita * mengaku ada tulisan spektakuler dari semua tulisan yang lahir pasca patah hati terakhir.

Wadoh! River runs dry begeneee….

Harus yah, patah hati lagi?

Beberapa saat yang lalu seorang fotografer ternama berkata bahwa untuk mendapatkan sebuah ide pameran yang mengena di hati ada baiknya orang harus patah hati dulu…

Di tengah ke-ngantuk-an saya di kelas itu, saya merasa pernyataan itu adalah jawaban atas masalah sehubungan dengan kelahiran buku-buku saya selanjutnya *crap*

“Tapi kan sekarang ‘lo lagi jatuh cinta jadi gampang dong patah hatinya,” pasti ini yang akan diucapkan oleh sobat saya saat tahu mengenai masalah ini *untung dia tidak tahu * karena dia sedang merasa yakin saya sedang jatuh cinta pada seseorang. :P

Aih, jatuh cinta, gimaneeee….

Beberapa bulan bahagia karena punya kawan baru yang punya cerita baru itu bukan jatuh cinta,

kekaguman atas kecerdasan seseorang selama beberapa saat itu bukan jatuh cinta,

mau ketawa karena joke-joke ajaib seseorang itu bukan jatuh cinta,

tergila-gila akan wangi parfum seseorang yang sempurna sekali wanginya saat berbaur dengan bau rokok yang diisapnya itu bukan jatuh cinta….

Lalu tiba-tiba pemikiran lain menganggu kepala saya, “jadi maksud ‘lo, gue harus patah hati lagi, begitu?”

Apakah saya harus menjalani rasa itu lagi, agar saya bisa menulis lagi?

Apakah itu bayaran yang setimpal untuk menjalani kembali hari-hari yang terasa menyesakkan itu?

Aih, sebagaimana pandangan umum yang ada di masyarakat

Patah hati itu rasanya tidak enak sekali…

Bagi saya pribadi, rasa sedih saat patah hati itu bukan sekedar masalah merasa sakit karena tindakan orang itu

Tapi lebih miris lagi, bagi saya yang lebih menyakitkan adalah adanya rasa kecewa mendalam di dada terhadap diri sendiri karena membiarkan hati disakiti sama orang itu.

Hohoho.. dramatis…

Ingat, saya adalah seorang penulis, jadi saya memang punya kemampuan untuk bercerita secara dramatis… hehehe…

Tapi tiba-tiba, belakangan ini saya merasa terpicu untuk menulis lagi. Ada ide mengenai biografi seorang teman, kisah cinta terlarang, dan sebuah film mengenai orang tawanan. Kenapa? Salah satu pemicunya adalah *kembali * rasa patah hati.

Kenapa tiba-tiba saya merasa patah hati?

Well, begini ceritanya...

beberapa waktu yang lalu, ada seseorang yang bertanya mengenai sebuah cerita dalam hidup saya yang sudah lama terlupakan. Sedikit kaget waktu mendapati pertanyaan itu dihadapkan di depan saya. Kaget sebenarnya adalah sebuah understatement of the year (bahasa Indonesia kata ini tak saya ketahui *maaf * )

Syok, lebih tepatnya.

Syok tapi tak tahu sebabnya.

Mungkin karena belum pernah ada yang menanyakannya

Mungkin karena memang tidak ada yang berani menanyakan mengenai hal itu sebelumnya.

Mungkin…

Ah, endless possibilities…

Tapi yang pasti, setelah pertanyaan itu terungkap.

Kotak Pandora yang menyimpan segala rasa sakit itu terbuka kembali.

And hell went loose!

Menyesal?

Sepertinya tidak?

Malam ini saya merasa cukup nyaman bercerita J sesuatu yang sudah lama tak saya rasa. Walau demikian, di dada ini masih menyimpan pertanyaan

Am brave enough to embrace that feeling again?

It feels like shit the first time, I bet it will also feel like shit the second time around.

Ah, saya ngak tahu!

Biarlah dinikmati saja …

Semoga pada akhirnya semua akan baik-baik saja…

March 18, 2010

-Makasih buat kurcaci di kepala saya dan seseorang yang punya sebuah pertanyaan besar karena telah memicu saya untuk menulis-

16 comments:

rachma wati said...

Patah hati ke berapa pun rasanya sama aja sakit,
Yang ngebedain (mungkin) gimana bereaksi atas sakit itu aja.
Semakin pengalaman, semakin sedikit misuh2nya.. hehehe.

tito imanda said...

Walau selalu melahirkan masterpiece,
tapi kan kita gak bisa pilih mau berkarya apa pas lagi patah hati...?

yang ada lagi deadline skripsi jadinya malah film...

rendy imandita said...

biasanya kalo makin sayang makin patah hati, tapi kalo ga ngutarain juga bakal nyesel sendiri

detta aryani said...

aku senang sama komentar ini!!!!!!!!! ah, you are human after all! :) I thought you were somekind of superpeople .. hohoho!

detta aryani said...

Hidup Patah Hati!!! :)

detta aryani said...

:) tsahhhhhh.... :) masih newbie jadi masih sering misuh misuh... :)

ric ky said...

you're at your best when you're single

ric ky said...

apa aja itu?

ric ky said...

coba cek ... lo bisa tidur ga?

ric ky said...

tercekat

detta aryani said...

Terpana! Gue pikir tulisan gondrong ini hy akan menuai opini. Tp tnyata ada jg pertanyaan yg terjaring. Hoho. Gue cm inget 1 judul 'daddy's little girl' 2 lainnya lupa. :) tidur gue (sayangnya) nyenyak. Tp gue rada sedih bc komen lo yg pertama. Hiks. If being the best means i should b 4ever single, then i'll pass. I'll take ordinary and simple instead. :(

detta aryani said...

Terpana! Gue pikir tulisan gondrong ini hy akan menuai opini. Tp tnyata ada jg pertanyaan yg terjaring. Hoho. Gue cm inget 1 judul 'daddy's little girl' 2 lainnya lupa. :) tidur gue (sayangnya) nyenyak. Tp gue rada sedih bc komen lo yg pertama. Hiks. If being the best means i should b 4ever single, then i'll pass. I'll take ordinary and simple instead. :(

ric ky said...

tolong dielaborasi kisah cinta terlarang itu ...

detta aryani said...

Cinta terlarang ya? Wah, gmn ya? Ini baru ide sgt kasar. I was hoping you'll b one of my source, bung. Ho2. :p. U heard (read) my story, now its time to hear yours. :)

ric ky said...

elo belum cerita apa2 ... seperti gw bilang ini cuma abstraksi

detta aryani said...

Ok. Kita akan bermain 20Questions kalo nanti bertemu lagi. Ho2. Menarik sekali sepertinya ini semua. *berasa spt Poirot saat menyelesaikan kasus2nya*