Wednesday, November 25, 2009

PUNK IN LOVE (2009) sebuah pengalaman menonton


Hal yang pertama menarik perhatian saya dari film ini adalah posternya. GOKIL Keren PISAN! Setelah saya menontonnya * walau harus diburu-buru karena si pemberi pinjaman ingin film nya beralih tangan* saya tak habis berdecak kagum pada rangkaian gambar-gambar yang disajikan oleh Ical Tanjung (Aih orang ini cantik nian hasil kerjanya.)

Sayang saat saya berusaha mencari tahu lebih banyak mengenai orang ini, om google tak banyak membantu. Yang saya bisa dapatkan hanyalah orang ini ada dibelakang keberhasilan Heart (2006), May (2008), dan Radit dan Jani (2008). That's it! Padahal saya penasaran :(

Tapi walau *sumpe mampus* gambarnya enak sekali untuk dilihat, film yang disutradarai oleh the ever-so-popular Ody C Harahap yang menelurkan Bangsal (2004), Alexandria (2005), Selamanya (2007) dan Kawin Kontrak (2008) tidak bikin saya melompat-lompat gembira.

Mulai dari penggunaan bahasa Jawa yang bikin saya mau garuk garuk kuping sampai tak manisnya flow film, bikin hati agak kecewa. Kekecewaan ini mungkin dikarenakan adanya harapan besar  terhadap film ini
*a word from a wise , jangan pernah berharap, babe... you will be sorry if you do *
Saya berharap melihat gambaran mengenai pengikut aliran punk ini. Bagaimana mereka jatuh cinta, apa yang dirasakan mereka, apa yang dipikirkan mereka... pilihan-pilihan mereka.... tapi ah... kenapa yang saya rasa di film ini hanyalah punk sebagai tempelan saja. Intinya adalah cinta remaja *yang sayangnya tak juga diceritakan tuntas sehingga penonton—atau paling tidak sayalah—jadi puas.... *

“Representation of the world, like the world itself, is the work of men; they describe it from their own point of view, which they confuse with the absolute truth” Simone de Beauvoir

harusnya memang saya berpegang pada tulisan di atas sehingga tak perlu menggebu dalam pencarian ini.... sehingga film ini bisa saya tonton dengan rasa ringan dan bisa memberi jempol pada saat saya menulis cerita ini... ah, ternyata sampai terakhir di dada saya hanya ada rasa penasaran dan berharap ada film lain yang bisa bercerita lebih banyak tentang punk Indonesia...
 

11 comments:

rendy imandita said...

mungkin karena diambil dari cerita nyatanya si penulis skenario ya. yang aslinya emang anak punk. yang aslinya jalan dari malang ke jakarta juga. jadi emang gadiceritain apa itu punk. tapi ini loh anak punk kalo lagi jatuh cinta ga beda ama yang lain.....

tapi gambar gambarnya emang ciamik. plus yang pemilhan font judul n posternya cakep berad

detta aryani said...

penulis skenario itu anak malang itu? bukan si anak malang itu cerita ke sutradaranya lalu ada penulis yang bikin skripnya?

detta aryani said...

harusnya sih ada bedanya --ah tapi itu menurut gue sih --- punk itu sebuah idealisme yang memformat cara berpikir, jadi harusnya sih beda dengan orang "biasa" --pake kutip karena memang seharusnya tak ada yang bisa mengeneralisir orang yah?---

rendy imandita said...

...penulisnya yang meninggal setelah nih film jadi. sayang banget ya

detta aryani said...

aih.. ada headshot yang gue tunggu2 nongkrong dengan manisnya di viewing history entri ini... :) selamat datang, pak... :)

detta aryani said...

waduh... tapi gue masih boleh kritisi ini kan 'ren?
... despite kenyataan bahwa itu nyata.. dan hal2 lain yang ada di balik pembuatannya.... gue hanya penonton yang bercerita mengenai apa yang ditontonnya... no disrespect, teman!

Candra Aditya said...

nggak sih, punk cuman sebagai background, menurutku film ini cuman sebagai komedi aja gitu, dengan karakter anak punk sebagai tokoh utamanya.

justru aku ketawa ngakak liat ini film, mungkin karena aku tinggal di malang dan tau bahasanya yang asli, makian2nya jadi sangat lucu dan fun...

Candra Aditya said...

nggak sih, punk cuman sebagai background, menurutku film ini cuman sebagai komedi aja gitu, dengan karakter anak punk sebagai tokoh utamanya.

justru aku ketawa ngakak liat ini film, mungkin karena aku tinggal di malang dan tau bahasanya yang asli, makian2nya jadi sangat lucu dan fun...

detta aryani said...

itu yang sangat disayangkan.. bukankah tujuan film itu membuat sesutu jadi bisa dipercayai...

ini gue sayangkan karena para pemainnya menurut gue memiliki potensi besar ... * serius!*

Candra Aditya said...

well, mereka kan bikinnya buat tujuan komersil.... so...

tapi emang sih, castnya lumayan menjanjikan...

detta aryani said...

komersil? kata ini bikin gue bingung.. apakah sesuatu yang komersil selalu mengindikasikan hal yang buruk?? seharusnya sih nga yah... sesuatu yang dilakukan dengan sepenuh hati dan hasilnya agar semua orang menyukainya tentunya bukan sesuatu yang buruk bukan? ..