Thursday, November 06, 2008

apa yang terjadi dengan anak-anak kita

beberapa saat yang lalu gue baca koran, dan melihat ada cerita ttg tawuran pelajar.. mmm.. bukan barang baru, bukan.. tapi yang menggelitik dari artikel itu adalah kutipan dari seorang pemerhati anak yang bilang "ini adalah jasil dari beratnya kurikulum pelajaran!"

whatde?

itu reaksi gue.... selesai gue baca artikel itu.. ternyata fokus perbincangan bapak pemerhati anak itu adalah bahwa kurikulum menekan kepala anak-anak kita sehingga mereka mudah sekali meledak dan sering terlibat tawuran

yeah, rite!

itu tanggapan sinis gue (ah sejak kapan gue ndak sinis?) bukannya gue pengen mengecilkan masalah ttg kurikulum ini yah... tapi gue heran betapa mudahnya bapak itu menyalahkan... mungkin karena gue tahu bahwa bapak ini mempromosikan sistem home schooling jadi mudah saja bagi gue untuk melihat orang itu py kepentingan dalam mengeluarkan statement ini... ( heran apakah dunia ini sudah terlalu penuh, sampai orang perlu menginjak kaki orng agar eksistensinya kelihatan.. hmmm....)

well, back to tawuran...
gue heran kenapa masalah tawuran ini selalu menjadi pertanyaan di kepala pemikir2 kita... gue melihat ini dgn sederhana banget... bukankah kita -generasi sebelumnya-- sering mendendangkan betapa hebatnya jadi jagoan dan memuji kebandelan yang pada akhirnya membuahkan kehebatan?

"ah, tenang saja nak, papa dulu anak bandel, tapi lihat apa yang papa sekarang bisa lakukan."

"Mmm.. mamam waktu dulu pacaran melulu, terus ketemu papa jadi baik deh sekarang."

jarang dengar cerita seperti:

"papa sederhana pemikirannya. Sekolah dan ikut ujian seperti yang lainnya. Sekaarang papa jadi seperti ini karena terus bekerja dan tidak pernah ingin mengambil jalan menuju kebandelan."

semua pengen denger cerita veris hollywood dengan titik berat pada sesuatu yang extravagansa.. td malem br liat biografi Barack Obama di metroTV, hal yang sama kita lihat di sana, bagaimana si anak harvard ini resah ttg eksistensinya dan pergi ke Kenya untuk mengenal akarnya, meninggalkan kehidupannya, sekolahnya dan segalanya untuk menenangkan diri...

sebuah langkah "bandel" yang dipuji pada akhirny... I'm not saying this is wrong. lho by the way.. tapi cerita2 bombastis ini yang didendangkan pada anak2 kita.... jadi menurut gue wajar aja kalau anak2 kita merasa harus bombastis dalam segala kegiatannya.. termasuk tawuran...

kadang2 perlu lho untuk introspeksi ttg apa yang kita ajarkan pada anak2 kita sebelum kita menyalahkan sistem yang ada (walau saya juga setuju kurikulum kita berat sekali).  Perubahan yang  itu harusnya mulai dari diri baru melebar ke tempat lain....

ah.. tapi mungkin gue yang telelu menggampangkan semua ini
mungkin benar anak-anak kita yang berantakan adalah hasil dari kurikulum yang ada
mungkin benar semuanya kini harus tampil extra segalanya

karena sepertinya cuma gue yang masih berpikir sederhana...

sept08
nongkr sendirian di blok m jd kesambet shg merasa perlu nulis ini

9 comments:

pry pry said...

yg penting nilainya oke kan...
begitu pesan ortu gue.. boleh bandel tp dg syarat dapat rangking di sekolah..

rangking sih tercapai.. tp itu pun hasil kebandelan.. -selalu menyiplak kalo ujian dan ulangan-

detta aryani said...

jadi, posisi lo dalam wacana ini apa, paj?

uwi hadjid said...

waduuuh dah ngomong apa gue sama ponakan ya?

agung marhaenis said...

pelajar mah mending, masih angin2an. Lah di negeri yang sering bikin lo bingung ini dett, mahasiswa yang konon jadi agen perubahan masa depan, hobinya aja tawuran. gimana coba? tambah bingung kan?

aku eLmo kamu siapa said...

hmmm ... mungkin itu sebabnya ya kenapa Bokap Nyokap gue baru pada blak2an mengenai belangnya pas gue udah SMA gitu ... :p

serny olive said...

kesadarannya yang kurang, tp dr mana awalnya? kurikulum? lingkungan sekolah? lingkungan rumah? keluarga?
well.... gue rasa semuanya berperan, gak bisa saling menyalahkan. Tiap program pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Nah, tinggal cari yang sesuai sama keadaan sekarang dan kebutuhan.

serny olive said...

ngomong apa sih gue tadi? hahahaha

detta aryani said...

omongan calon ibu.. aih!

detta aryani said...

bingung tapi sayang kok.. sama negeri ini...